Dec 13, 2011

Di Bawah Kibaran Jilbab



- Sebelum lebih jauh, mari kita renungi lagi perintah mengenakan hijab bagi seorang muslimah:
“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita mukmin lainnya, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab (33): 59)

Saudariku..
Perintah mengenakan jilbab merupakan perintah Allah secara langsung kepada semua muslimah. Namun, walaupun hal demikian adalah perintah Tuhan secara langsung yang bertujuan untuk kebaikan dan kehormatan diri seorang muslimah, kebebasan untuk melaksanakan perintah tersebut membutuhkan perjuangan yang ekstra. Kebebasan mengenakan Pakaian takwa ini banyak dihalang-halangi oleh skandal-skandal tertentu yang tidak mengerti islam secara kaffah (menyeluruh).
Tahukah kalian bahwa berkibarnya jilbab di tanah air ini sebelumnya memerlukan pengorbanan??
Pengorbanan yang mungkin mempertaruhkan nyawa dan harga diri demi sebuah hijab sebagai bentuk kecintaan kepada Allah semata..
Sungguh, kebebasan menutup aurat (jilbab) yang kita rasakan sekarang adalah bentuk upaya mereka yang memperjuangkan hak-hak muslimah di tanah air..
Berikut ini awal mula jilbab berkibar di Indonesia:
Berkibarnya jilbab di bumi pertiwi telah melewati sejarah luka yang panjang dan lama. Sekitar tahun 1980-an, ribuan mahasiswi dan pelajar berjilbab membanjiri jalanan di berbagai kota besar. Mereka memprotes keputusan yang melarang jilbab di sekolah.
Revolusi jilbab di Indonesia bermula tahun 1979. Siswi-siswi berkerudung di SPG Negeri Bandung hendak dipisahkan pada lokal khusus. Mereka langsung memberontak atas perlakuan diskriminasi terhadap jilbabnya. Ketua MUI Jawa Barat turun tangan hingga pemisahan itu berhasil digagalkan. Ini adalah kasus awal dari rentetan panjang sejarah jilbab di bumi persada.
Selanjutnya tanggal 17 Maret 1982 keluar SK 052/C/Kep/D.82 tentang seragam sekolah nasional oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah , Prof. Darji Darmodiharjo, S. H. Pelaksanaan terhadap surat keputusan itu malah berujung pada larangan terhadap jilbab. Maka meledaklah demo barisan pembela jilbab di seantero Indonesia.
Ketika itu tengah gencar-gencarnya penggusuran jilbaber dari bangku pelajaran. Para muslimah terpaksa hengkang dari studi demi konsisten menjalankan syariat. Mereka yang diusir dari sekolah, bahkan menggelar perkara ini sampai ke pengadilan.
Belum reda perjuangan jilbab di sekolah-sekolah, muncul fitnah baru di penghujung 1989. Jilbab penebar racun!? Ny. Fadillah berbelanja di Pasar Rawu, diserang tiba-tiba, diteriaki dan dituduh penebar racun. Orang-orang yang tersulut emosi langsung merajam wanita itu hingga hampir meninggal dunia. Para muslimah menjadi takut keluar rumah. Hingga kembali digelar tabligh akbar lautan pendukung jilbab.
Korban demi korban terus berjatuhan tetapi semangat berbusana takwa makin berkobar hebat. Akhirnya, kebenaran tidak bisa lagi dihempang, aturan Tuhanlah yang maha benar. Unjuk rasa, protes, demonstrasi dan dialog intensif serta jalur hukum sampailah di saat yang berbahagia. Seiring keluarnya SK Dirjen Dikdarmen No. 100/C/Kep/D/1991 jilbab lengkap dengan busana menutup auratnya dinyatakan ‘halal’ masuk sekolah. Allahu Akbar!!??!!
Sumber: Hemdi, Yoli. 2005. Ukhtiy… Hatimu di Jendela Dunia (Sebuah Torehan Wajah Perempuan dan Peristiwa). Zikrul Media Intelektual: Jakarta Timur

Saudariku…
Buah perjuangan merekalah yang kita nikmati sekarang, di mana-mana disaksikan lautan jilbab. Busana yang memancarkan pesona ‘dalam’ yang kuat. Pakaian takwa yang berfungsi sebagai benteng kehormatan diri.

Saudariku …
Saya sangat yakin, bahwa kita semua sebagai seorang muslimah, diminta mencopot jilbab bagaikan memaksa telanjang di depan umum. Jilbab bukan sekedar urusan busana, tetapi melambangkan keislaman seorang perempuan. Sekaligus sebagai simbol kesalehan dan ketaatan kita kepada Allah.
Saudariku…
Pakaian takwa bukan hanya sekedar pembungkus tubuh. Busana adalah ekspresi jiwa terhadap identitas pemakainya. Ia merupakan kemasan apik dari pribadi luhur pemakainya. Sosok muslimah berpakaian takwa bagaikan oase penyejuk di tengah panasnya bisnis obral aurat. Jilbab ini telah menuntun kita tidak menjadi golongan dari mereka. Peliharalah hijab kita ini hingga kita bertemu Allah. Hijab yang akan membuat kita berucap bangga ketika bertemu Allah “semua yang kulakukan di dunia ini adalah sebagai pertanda rasa cintaku yang besar kepada-Mu yaa Rabb”.
Saudariku …
Jangan dianggap jilbab malah membuat kita terkesan tidak menarik. Muslimah berjilbab memberikan kesan khusus terhadap lawan jenis. Pribadi yang menimbulkan citra tentang sesuatu yang berharga, makin banyak yang tertutupi makin menariklah ia. Ibarat mutiara yang mempunyai banyak sudut, di mana tiap-tiapnya memancarkan pesona yang berbeda. Keanggunan yang membuat hati tertawan, sehingga kegelapan berubah kegemilangan. Wanita shalihah semakin lama kian bertambah keindahan dari perhiasan budi pekertinya. Sementara muslimah sejati cemerlang dengan inner beauty dari hijabnya, cantik hingga ke hatinya.

Yakinlah saudariku..
Keribetan kita di dunia akan hijab ini akan dibalas kemudahan oleh Allah di akhirat..
Ingatlah sebuah hadits yang memposisikan keutuhan suatu Negara berdasarkan wanita di dalamnya:
“Wanita adalah tiang Negara, jika rusak, maka Negara juga akan rusak, dan jika baik, Negara juga kan menjadi baik”.
Betapa besarnya peran kita sebagai seorang muslimah. Peran yang bisa menghantarkan keutuhan suatu Negara ataupun keruntuhan suatu Negara. Jagalah selalu hijab ini karena dengan demikian kita tidak akan termasuk wanita yang menghancurkan Negara. (Aamiiinn)
Satu lagi hiasan kalimat yang sangat saya senangi: “Banyak pria hebat menjadikan wanita sebagai sumber inspirasi dan motivasi yang tertinggi. Selalu ada perempuan kuat dibalik lelaki hebat. Entah itu berperan sebagai ibu, istri, kekasih, atau sahabat. Karena itu, ia dianggap sebagai tonggak-tonggak penyangga sebuah peradaban”.
“Jagalah selalu jilbabmu Ukhti, karena itu sungguh nyaman, tenteram, anggun, cantik, mempesona dan tentunya sejuk di mata.”
—
Teruntuk semua muslimah kebanggaan Islam dan penggerak peradaban ^_^

Sumber: dakwatuna.com

Aug 27, 2011

Ya ALLAH, Ramadhan bakal berakhir!!!


Adakah ini ramadhan yang terakhir buat kita sbg hambaNya??
Adakah kita masih berpeluang bertemu dengannya lagi??
Sama-sama kita mengambil kesempatan yang ada ini untuk kita terus bersyukur dan memperbanyakkan sujud dan iibadah kepadaNya..yaAllah,terima taubat kami dan jauhkan kami daripada api neraka...Ameen yaRabb

Adakah ramadhan ini lebih baik buat kita atau sebaliknya, sama-sama kita berfikir tentangnya...
yaAallah, andai kami diberi kesempatan bertemu dengan ramadhan yang akan datang,jadikanlah kami hambaMu yang sentiasa bersyukur dan redha di atas setiap ketentuanMu..Ameen yaRabb...

ya Allah,terimalah taubat kami,hanya padaMu kami memohon keampunan..
hanya padaMu kami bersujud...Allah,Allah,Allah..

 

RUHUL ZIKR 1 (bhgn 2)


12. Kerja dunia boleh tangguh‐tangguh, kerja akhirat tak boleh tangguh‐tangguh.
13. Watak Auliya’: Kena maki tak mudarat, kena puji tak manfaat.
14. Kenal Allah s.w.t. lebih mudah daripada kenal para wali, kerana mereka Allah s.w.t. pakaikan
      dengan sifat kekurangan. Sebagai mana kafir musyrikin tidak mengenal Rasulullah s.a.w.
     (walhal Rasulullah, Allah s.w.t. pakaikan baginda dengan penuh sifat‐sifat kesempurnaan).
15. Hendak kenal wali tanyalah Allah s.w.t., jangan tanya orang.
16. Para wali tidak boleh dikenal dengan hawa nafsu.
17. Saya berdoa kepada Allah s.w.t. nak jadi hamba Allah s.w.t., bukan nak jadi wali.
18. Buat ibadat nak jadi wali, SYIRIK!
19. Allah s.w.t. tak pilih orang malas jadi wali.
20. Kalau kita kasih orang yang Tuhan benci, itu satu penyelewengan.
21. Orang yang sebenar cinta Allah s.w.t. tidak takut menghadapi cabaran hidup dunia.
22. Saya nak bawa kamu jadi hamba Allah s.w.t.
23. Saya tak ajar kamu melampau (berani dan semangat yang tak ketahuan). Saya tak ajar kamu
       menjadi pengecut. Saya ajar kamu jadi hamba Allah s.w.t. yang bertaqwa.
24. Saya hamba Allah s.w.t. macam kamu juga. Saya tidak tahu melainkan apa yang ALLAH s.w.t
      bagi tahu. Kalau Dia tak bagi tahu, saya pun tak tahu.
25. Dia Tuhan! kita hamba. Jangan campur urusan Tuhan. Manusia jenis apa ini? Dia nak atur
     Tuhan. Dia suruh Tuhan ikut dia.
26. Taslim (penyerahan). Nak pun tidak, tak nak pun tidak. Cepat pun tidak, lambat pun tidak.
27. Hidup atas dunia tak mahu ikut nabi, auliya’ atau orang soleh. Bila mati nak duduk sekali
     dengan orang soleh, ini cerita kartun.
28. Waktu hidup ikut Firaun, Qarun dan Haman. Bila mati nak masuk syurga, dengan nabi Musa
      a.s. dan Harun a.s. Logik tak?
29. Tak guna hidup kalau mementingkan diri sendiri sahaja.
30. Uwais Al‐Qarni, jasadnya mengembala unta, rohnya mengembala manusia beriman kepada
31. Manusia, banyak tak dapat taufik hidayah sebab ikut nafsu ammarah kemudian (dalam masa
      yang sama mereka) berdoa dengan Tuhan (agar dianugerah sama seperti orang yang berjaya
      di sisi Allah). Sepatutnya kena tinggalkan nafsu dulu. Allah s.w.t. jadikan nafsu ammarah
     supaya kita tinggalkan bukan untuk ikut.
32. Cara cuci hati, banyakkan baca Al‐Quran, ingat mati dan hadir majlis zikir. Bila hati suci,
      barulah ada tauhid.
33. Ilmu (kesufian) ini bukan boleh diwarisi. Kalau boleh tentulah saya bagi anak isteri saya dulu,
     tetapi ia adalah anugerah Tuhan.
34. Saya mengaji (ilmu perjalanan Ahlullah) dengan air mata (banyak menangis).
35. Penyatuan orang mukmin dengan air mata (menangis kerana mengenangkan keagungan
      Tuhan). Penyatuan orang yang tak mukmin dengan gelak ketawa. Macam kera maka jadilah
      kera.
36. Tuhan tidak bagi taufik hidayah pada orang yang zalim. Sebesar‐besar kezaliman ialah
       mengikut hawa nafsu.
37. Berjayanya seseorang itu sebanyak mana tumpuan yang dibuat. Banyak tumpuannya,
       banyaklah kejayaannya, kurang tumpuannya, maka kuranglah kejayaannya.
38. Matlamat saya bukannya batu, kayu ( bangunan ) dan ramai orang, tetapi saya nak orang yang
      bersungguh mengikuti garisan syariat dan toriq.
39. Saya mengajar ilmu para wali bukannya ilmu tok sami!
40. Saya hanya boleh nasihat, saya tak boleh memberi manfaat dan mudharat. Buat ibadat nak
      fadhilat, nanti berkulat. Buat nak berkat nanti melekat.Allah s.w.t.
41. Saya kagum dengan ketahanan yang ada pada Hallaj, orang korek mata, kerat tangan dia, dia
       tidak rasa sakit.

       ....bersambung...

Jun 14, 2011

RUHUL ZIKRI 1

Oleh
Syeikh Mahmud Al‐Majzub
©Madrasah Nurul Iman
2
Petikan dari buku Ruhul Zikri Jilid 1 ini mengandungi sebahagian dari kata‐kata sufi Syeikh Mahmud Al‐Majzub yang lebih dikenali dengan Syeikh Muhyiddin Abdul Qadir Mahmud Al‐Kedahi di alam kesufian, pengasas Madrasah Nurul Iman. Kata‐kata ini dipetik daripada syarahan dan nasihat beliau kepada murid‐muridnya. Kata‐kata sufi yang diungkap oleh Syeikh Mahmud mempunyai mutiara kata makna yang mendalam, dimana ada sebahagian daripada kata‐kata beliau tidak boleh difahami atau dibuat bandingan secara langsung mengikut fahaman orang awam. Mutiara kata yang indah dan bermakna ini juga diharap dengan rahmat dan kasih sayang Allah dapat menangkis tuduhan‐tuduhan liar selama ini terhadap ilmu Tasawwuf. Semoga petikan dari buku ini menjadi santapan rohani yang dapat membersihkan jiwa dan mendorong hati untuk menjadi hamba Allah yang sehamba‐hambaNya di dunia ini, Insya Allah.

1. Perkara kerohanian tidak boleh difahami dengan akal, nafsu dan ilmu. Jika boleh dengan ilmu, sudah tentulah Imam Ghazali tidak mengaji dengan Yusuf Nasaji dan Syeikh Abdul Wahab Sya’rani tidak mengaji dengan Ali Khawas. Cukuplah mereka ini menjadi contoh.

2. Belajar kereta perlu ada guru, nak kenal Allah tak perlu guru. Ini awal‐awal lagi syaitan tipu.

3. Duka dan suka di dalamnya makrifah lebih manis daripada madu, lebih putih daripada susu. Duka dan suka di dalamnya kekufuran dan kesyirikan lebih pahit daripada hempedu dan lebih busuk daripada budu.

4. Kalau nak berjalan (di dalam perjalanan Ahlullah). Mengaku kita tak terpakai (tak berguna dan banyak dosa), lebih senang, mudah‐mudahan Allah s.w.t. ampun dosa kita.

5. Bila ibadat kita palsu, kita ikut hawa nafsu. Seperti kapal terbang palsu yang banyak jual di kedai.

6. Selagi mana kita boleh ikut hawa nafsu menunjukkan kita masih palsu.

7. Cari jalan mengendalikan ummah asalkan mempraktikkan Sunnah.

8. Orang yang diberi mudah (untuk menjalani jalan kesufian) apabila ada darah (keturunan) kesufian. Tiada dosa besar. Tiada amalan kejinan (khadam). Banyakkan selawat, istighfar, zikir dan baik adab dengan Allah s.w.t., zuhud, tinggalkan makhluk, bersungguh‐sungguh dengan Allah s.w.t., istiqomah, tegas, tiada tujuan dunia dan akhirat.

9. Selagi mana terasa kita banyak ibadat, itu tanda kurang ikhlas tidak menuju “Rodhiah” tetapi terhenti kepada Abid tidak (fana’ ‘ul‐fana’).

10. Perkara kerohanian tidak boleh difahami melainkan rahmat Allah s.w.t semata‐mata, melalui Rasulullah s.a.w, melalui ahli zaman dan dengan bermunajat kepada Allah s.w.t. Kalau kenal (tahu tentang perkara kerohanian) dengan cerita‐cerita orang (perasaan kita itu tidak sah).

11. Kalau tak senang dengan sesuatu, DIAM! Cakap salah tak cakap salah, cakaplah kerana Allah s.w.t. Semoga jadi hamba Allah s.w.t.

              ....bersambung...

Jan 13, 2011

IKHTILAT

Ikhtilat merupakan suatu bentuk pergaulan secara bebas yang melibatkan lelaki dan perempuan yang ajnabi. Ia merupakan suatu bentuk pergaulan yang ditegah oleh Islam. Sesungguhnya mengambil mudah persoalan ikhtilat boleh membuka ruang maksiat yang berleluasa dalam masyarakat tanpa kita sedari.

Tambahan kemajuan era teknologi sekarang, ikhtilat bukan sahaja melibatkan perjumpaan antara lelaki dan perempuan yang ajnabi malah dengan kemudahan yang ada seperti Yahoo Messenger, SMS, e-mail, dan Friendster. Jarak yang jauh didekatkan, masa yang berbeza tidak menjadi masalah begitu juga dengan kos perhubungan. Budaya ini terus menjadi darah daging masyarakat kita terutama remaja-remaja.

Kadang kala perhubungan dimulakan atas dasar kerja tetapi akhirnya melarat kepada perkongsian peribadi bukan perkongsian kepakaran. Maka tenggelamlah konsep 'kerja adalah kerja, peribadi adalah peribadi'. Kononnya hendak memahami dan mewujudkan keserasian dalam bekerja. Seolah-olah kita mencari keredhaan manusia dalam   kemurkaan   Allah.

Apabila wujud golongan yang menegah dan menunjukkan kaedah muamalat yang selari dengan syariat Islam maka timbullah konsep SYADID. Sememangnya Islam itu mudah dan tidak membebankan tapi tidak bermakna kita layak untuk mempermudah-mudahkan syariat Islam. 


Adakah salah seorang nisa' dan rijal menjaga maruah dan pergaulannya. Bercakap, berurusan, berjumpa dan berbincang atas keperluan? Adakah salah bagi seorang nisa' terutamanya menegaskan suaranya dan menjaga pandangan demi menjaga maruah dirinya.
Dalam Al-Quran ada menyebut: "Katakanlah kepada lelaki-lelaki dari orang-orang beriman supaya menahan pandangan mereka serta menjaga kehormatan mereka dan katakanlah kepada perempuan-perempuan dari orang-orang yang beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka." (An-Nur:31)


Apabila rijal dan nisa' berjumpa tidak kira atas apa jua keperluan dan keadaan perlulah berteman bertepatan dengan sabda Rasulullah SAW: "Tiada akan menyendiri seorang lelaki dan seorang perempuan itu melainkan syaitan akan menjadi orang yang ketiga."

Ada yang menimbulkan alasan malas menyusahkan rakan untuk menemankan kita. Malas nak tunggu rakan. Malas itu malas ini. Besar sangatkah malas kita berbanding arahan Allah dalam Al-Quran? Tegarkah kita melawan syariatNya.

Syariat Islam turut menyarankan kepada kita untuk menundukkan pandangan. Bukan sahaja haram melihat aurat bukan muhrim malahan bahagian-bahagian bukan aurat turut dilarang. Sabda Rasulullah SAW: "Wahai Ali janganlah pandangan (yang kedua) menuruti pandangan (yang pertama) kerana sesungguhnya pandangan pertama itu adalah bagimu sedang yang kedua tidak (berdosa)."

Kalau dah bergaul dan bercampur bebas masakan kita mampu menahan dan menjaga pandangan. Usah menegakkan benang yang sememangnya basah. Ana bukanlah nak menghukum tanpa memberikan jalan penyelesaian. 

Jom kita berkongsi tip-tip berurusan dengan bukan muhrim:

1.
Elakkan berhubungan dengan lelaki. 

2. Andai terpaksa berhubung dengan bukan muhrim gunakanlah perantaraan berbentuk tulisan seperti sms, nota kecil dan sebagainya. Ringkaskan dan padatkan ayat-ayat. Tak perlulah meletakkan ikon senyum yang sememangnya comel. Tak perlu disertakan dengan gelak ketawa seperti huhu, haha, hihi, hikhik. Seolah –olah kanak-kanak tadika mengajar mengeja. Apatah lagi benda-benda lain yang kurang berfaedah.

Andai terdesak sangat untuk bercakap melalui telefon, jagalah suara anda terutama nisa' selari dengan tuntutan Al-Quran: "Wahai isteri2 nabi, kamu bukanlah seperti perempuan-perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah lemah lembutkan suara dalam berbicara, sehingga bangkit nafsu org yang ada penyakit dlm hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan yg baik." Takkanlah nak tunggu Allah menempelak kita dengan balaNya? 

3. Tundukkan hati. 

Sepatutnya apabila kita berurusan dengan bukan muhrim kita perlu risaukan kemurkaanNya. Banyak-banyaklah berdoa semoga urusan dipermudahkan dan bebas daripada fitnah. Minta dariNya supaya dipelihara daripada panahan syaitan.

4.
Tundukan pandangan. 

Jangan tertipu dgn matapelajaran kaedah berkomunikasi yang kita belajar "make eye contact with the person you're talking to". Melainkan dengan kaum sejenis. Teramatlah disarankan demi membina ukhwah yang kukuh. Berwaspada dengan konsep "dari mata turun ke hati". Tak bermakna tundukan pandangan sehingga jalan terlanggar tiang.

5.
Mempercepatkan urusan.

 Apabila ada urusan, segerakanlah kerja. Tak perlulah sampai hendak berkongsi hal peribadi, luahan hati, gelak ketawa dan sebagainya yang tidak penting. Berbincanglah di tempat yang sesuai dan segerakan urusan. Jangan lupa peneman anda.

Artikel dari:i luv islam